6 Oktober 2026โ€ขbaca 5 menit

State of JS 2025 Bilang Developer Cuma Pakai 2,6 Framework Sepanjang Karier

Coba hitung semua framework yang pernah kamu coba, lalu potong jadi yang beneran dipakai buat kerjaan. Daftarnya jauh lebih pendek dari dugaan. State of JS 2025 nanya ke 13.002 developer, dan rata-ratanya cuma 2,6. Yuk, lihat angkanya bareng-bareng!

State of JS 2025 Bilang Developer Cuma Pakai 2,6 Framework Sepanjang Karier

Coba bayangin kamu disuruh nulis daftar semua teknologi yang pernah dicoba. Framework A, library B, build tool C, plus satu dua tool yang cuma sempet dibuka tutorialnya. Daftarnya biasanya panjang banget. Tapi kalau daftar itu dipotong jadi yang beneran dipakai buat kerjaan, isinya jauh lebih pendek dari yang kamu kira. ๐Ÿค”

Nah, State of JS 2025 ternyata punya angka yang pas banget buat ngebuktiin hal ini.

Poin Penting

State of JS 2025 mencatat rata-rata developer cuma pernah memakai 2,6 framework front-end sepanjang karier, dan sekitar 97% responden berhenti di 6 atau kurang. Sedikitnya jumlah itu bukan karena malas belajar, tapi karena pemilihan teknologi di dunia kerja adalah keputusan tim, bukan keputusan pribadi. Yang berubah tiap beberapa tahun cuma nama dan API-nya, sementara cara membaca error dan memecah masalah tetap sama. Di sisi CSS, State of CSS 2025 menunjukkan pola serupa: 27% responden justru nggak pakai framework CSS sama sekali.

Seberapa banyak sih framework yang kita pakai?

Menurut hasil survei State of JS 2025 (Devographics, ditutup 11 Nov 2025, dengan 13.002 responden), rata-rata responden cuma pernah memakai 2,6 framework front-end sepanjang karier. Sumbernya bisa kamu cek langsung di halaman front-end frameworks State of JS 2025.

Angka rata-rata doang kadang nggak cukup, jadi yuk kita lihat sebarannya:

Jumlah framework Responden
0 1.135
1 2.444
2 3.436
3 2.859
4 1.541
5 824
6 395
7 218
8 82
9 42
10 18
11 8

Puncaknya ada di 2 framework, dengan 3.436 responden. Setelah itu angkanya turun lumayan cepat. Sekitar 97% responden pernah memakai 6 framework atau kurang, sedangkan yang pernah menyentuh 7 ke atas cuma sekitar 2,8%.

Survei itu juga menulis kalau ekosistemnya sudah stabil. Hampir nggak ada framework front-end baru tahun ini, dan "pendatang baru" Svelte umurnya aja udah 9 tahun. Jadi dunia JavaScript yang katanya ganti framework tiap minggu itu emang lebih banyak jadi bahan meme ketimbang kenyataan. ๐Ÿ˜„

Kalau dicocokkan ke riwayat belajar sendiri?

Riwayat belajar pribadi sendiri ternyata nggak jauh dari pola itu, walaupun daftar yang pernah disentuh agak panjang. Pertama kali belajar front-end pakai Angular, waktu itu masih sekolah. Alasannya sederhana: tutorial di internet banyak yang membahas Angular, terutama dari The Net Ninja. Lanjut ke React, juga masih sekolah, di jaman class component.

Setelah itu pindah ke Vue dengan alasan antimainstream, biar beda dari teman-teman yang pakai React. Lanjut Nuxt 2 karena orang-orang di sekitar pakai Next, lagi-lagi biar beda sendiri. Sempat pakai Svelte, lalu migrasi ke Nuxt 3, dan sekarang Nuxt 4.

TanStack dan Astro juga sempat dicoba, tapi mentok di baca how-to guide. Nggak pernah jadi proyek sungguhan. Jadi kalau dihitung jujur, yang beneran dipakai ya itu-itu aja.

CSS-nya lebih berliku. Dulu sempet bangga pakai SASS versi indent, soalnya ngerasa lebih keren, sementara CSS biasa atau SCSS rasanya "b aja". Terus Bootstrap, Tailwind, sempat PicoCSS karena ngide, lalu balik lagi ke Tailwind. Lama-lama sadar kalau PostCSS aja udah cukup, dan sekarang balik ke CSS biasa karena lebih sedikit bloat.

Ternyata nggak sendirian lho. Di State of CSS 2025, dari 3.977 responden yang menjawab pertanyaan CSS framework, 1.061 orang (sekitar 27%) nggak pakai framework CSS sama sekali. Sebagai perbandingan, Tailwind dipakai 2.041 orang (โ‰ˆ51%) dan Bootstrap 1.194 orang (โ‰ˆ30%). Untuk preprocessor, Sass/SCSS dipakai 2.434 orang (โ‰ˆ61%), PostCSS 1.517 orang (โ‰ˆ38%), dan 838 orang (โ‰ˆ21%) nggak pakai sama sekali.

Kenapa jumlahnya bisa sekecil itu?

Jawabannya bukan karena developer malas belajar. Di dunia kerja, framework itu keputusan tim, bukan keputusan pribadi. Kamu nggak bisa tiba-tiba ganti stack cuma karena penasaran, sementara ada rekan satu tim yang harus ikut maintain kodenya.

Biaya pindah juga nyata banget. Ada ekosistem library yang harus dicari padanannya, tooling yang harus disetel ulang, dan orang yang bisa review kodemu. Pindah framework itu mirip pindah rumah: barangnya sama, tapi semuanya harus dikemas ulang dan kamu butuh waktu buat tahu letak saklar lampu. ๐Ÿ“ฆ

Data survei juga nunjukin hal menarik soal Solid. Dipakai cuma sekitar 10% responden, tapi satisfaction-nya paling tinggi lima tahun berturut-turut. Artinya, tools yang paling disukai belum tentu yang paling banyak dipakai. Keluhan paling sering di survei malah React issues, kerumitan berlebihan, performa, state management, dan choice overload. Kebanyakan pilihan emang bikin capek, kayak buka menu restoran yang tebalnya sebuku skripsi.

Coba hitung dulu, kamu udah pakai berapa?

Sebelum lanjut baca, coba ambil kertas atau buka catatan. Tulis semua framework front-end yang pernah kamu pakai. Tapi yang dihitung cuma yang beneran bikin sesuatu, bukan yang berhenti di tutorial hari pertama.

Udah? Sekarang bandingin sama tabel tadi. Kalau hasilnya 2 atau 3, kamu ada di puncak kurva. Kalau 7 ke atas, kamu masuk kelompok 2,8% itu. Dua-duanya nggak salah kok, ini cuma cermin kecil buat ngecek ekspektasi kita sendiri. ๐Ÿชž

Yang berubah dan yang nggak

Tiap beberapa tahun, yang berubah itu cuma nama, API, dan konvensi. Dulu class component, sekarang fungsi. Dulu Options API, sekarang composition. Sintaksnya ganti, tapi masalah yang diselesaikan hampir sama.

Yang nggak berubah justru lebih penting: cara baca error, cara ngecilin masalah sampai ketemu penyebabnya, dan cara mikirin data serta batas sistem. Nggak heran kalau hari pertama pindah framework biasanya terasa familiar. Pesan error-nya beda, tapi cara kita membacanya sama.

Terus, apa konsekuensi praktisnya?

Pertama, daftar belajar boleh dipotong. Nggak ada kewajiban nyobain semua yang lagi ramai di timeline. Kedua, gali lebih dalam di yang udah dipakai. Paham reactivity, routing, dan rendering di satu framework biasanya lebih berguna daripada paham permukaan lima framework.

Ketiga, ukur diri dari hal yang portable. HTTP, JavaScript dasar, CSS, debugging, dan desain data itu kebawa ke mana-mana, sedangkan sintaks framework belum tentu.

Kapan belajar hal baru tetap masuk akal? Waktu proyekmu beneran kena masalah yang nggak bisa diselesaikan tool sekarang, waktu tim sepakat pindah, atau waktu kamu punya proyek nyata buat dicoba, bukan sekadar baca how-to guide. ๐Ÿ˜…

Soal riwayat sendiri, setelah deretan Angular, React, Vue, Nuxt, dan Svelte, di kerjaan sekarang semuanya vanilla. Nggak pakai framework sama sekali. Ujung-ujungnya, perjalanan panjang itu ngarahin ke titik awal yang paling polos. ๐Ÿ˜ญ

Biar makin jago ngoding.

Yuk gabung bareng temen-temen developer lainnya buat dapet update teknologi, tips, dan tutorial santai tiap minggu.

Biar Nggak Kudet

Update teknologi, tips ngoding, dan insight santai langsung ke email kamu tiap minggu.

Santai, anti spam. Bisa berhenti langganan kapan aja.

Baca Selanjutnya

Lihat semua
Ketika Pilih Framework Cuma Biar Kelihatan Beda
karierKetika Pilih Framework Cuma Biar Kelihatan Beda

Terakhir kali kamu milih framework atau library baru, itu karena masalahmu butuh alat itu, atau karena alatnya kedengaran keren dan belum banyak yang pakai? Pertanyaan ini nggak enak dijawab. Soalnya keputusan teknologi sering diambil dengan alasan yang nggak pernah ditulis di dokumen teknis mana pun.

ยฉ 2026 Inva.dev.