6 Oktober 2026โ€ขbaca 5 menit

Ketika Pilih Framework Cuma Biar Kelihatan Beda

Terakhir kali kamu milih framework atau library baru, itu karena masalahmu butuh alat itu, atau karena alatnya kedengaran keren dan belum banyak yang pakai? Pertanyaan ini nggak enak dijawab. Soalnya keputusan teknologi sering diambil dengan alasan yang nggak pernah ditulis di dokumen teknis mana pun.

Ketika Pilih Framework Cuma Biar Kelihatan Beda

Coba jujur sebentar: terakhir kali kamu milih framework atau library baru, itu karena masalah di project-mu butuh alat itu? Atau karena alat itu lagi dibahas di timeline, kedengarannya keren, dan nggak banyak orang di sekitarmu yang pakai? ๐Ÿค”

Pertanyaan ini nggak enak dijawab. Soalnya keputusan teknologi sering diambil dengan alasan yang nggak pernah kita tulis di dokumen teknis mana pun. Alasan aslinya lebih sederhana dan lebih memalukan: pengen kelihatan beda.

Poin Penting

Sebagian keputusan teknologi diambil bukan karena alasan teknis, tapi karena ingin kelihatan beda dari yang lain. Motif itu mahal: waktu habis buat pindah-pindah tanpa kedalaman, kerja bareng jadi susah saat cuma satu orang yang paham alatnya, dan perlahan kita jadi orang yang nyepelein pilihan teknologi orang lain. Alat bukan pengganti identitas, karena yang dihargai adalah hasil kerja dan cara berpikir. Memilih teknologi yang tidak umum tetap sah, asalkan alasannya teknis dan trade-off-nya bisa dijelaskan tanpa emosi.

Jadi, ini pengakuannya

Perjalanannya mulai dari Angular, waktu masih sekolah. Alasannya polos banget. Tutorial di internet banyak yang bahas Angular, terutama dari The Net Ninja. Lanjut ke React, masih jaman class component. Sampai di sini semuanya masih masuk akal, karena ikut materi yang tersedia.

Masalahnya mulai di langkah berikutnya. Pindah ke Vue itu bukan karena Vue lebih bagus untuk kebutuhan yang ada. Alasannya pengen antimainstream, biar beda dari teman-teman yang pakai React, dan jujur aja, biar berasa lebih superior. Nggak ada benchmark, nggak ada perbandingan trade-off. Cuma rasa pengen jadi yang "nggak ikut arus".

Pola yang sama muncul lagi di Nuxt 2. Orang-orang di sekitar pakai Next, jadi pilihannya jatuh ke Nuxt. Lagi-lagi biar beda sendiri. Di sisi CSS juga gitu. Dulu sempet bangga pakai SASS versi indent, yang nulisnya pakai indentasi tanpa kurung. Alasannya? Berasa lebih keren. CSS biasa atau SCSS rasanya "b aja". Padahal hasil akhirnya sama persis di browser. ๐Ÿ˜…

Kenapa kita gampang banget kejebak?

Ada satu hal yang sering dilupakan: waktu masih belajar, kita belum punya hasil besar yang bisa dibanggain. Belum ada product yang dipakai banyak orang, belum ada sistem yang bertahan bertahun-tahun. Tapi kita tetap butuh sesuatu buat dijadikan identitas, dan stack adalah jalan pintas yang paling gampang.

Bayangin kayak milih jaket komunitas. Kamu belum tentu jago naik motor, tapi jaketnya udah bikin kamu kelihatan "anak komunitas". Stack bisa bekerja persis begitu. Cukup sebut nama alat yang agak jarang, dan kesannya kamu udah lebih paham.

Lingkungan online ikut mempercepat ini. Di Discord, di Reddit, dan di obrolan sama teman-teman developer di kampus, ada rasa jadi bagian dari kelompok kecil yang "lebih tahu". Rasa itu enak banget, lho. Ada pengakuan kecil tiap kali kita bilang, "ah, nggak pakai yang itu". Dan hal yang enak, secara alami, bikin kita pengen mengulanginya.

Coba cek diri sendiri, yuk

Sekarang giliran kamu. Ingat keputusan alat terakhir yang kamu ambil, entah itu framework, library CSS, atau tool untuk build. Terus tanya ke diri sendiri dengan jujur: kenapa sih milih itu?

Apakah kamu pernah membandingkan minimal dua opsi dengan kriteria yang jelas? Apakah kamu bisa menjelaskan kelemahan pilihanmu tanpa merasa tersinggung? Atau jawabannya cuma, "ya, soalnya keren aja"?

Nggak usah buru-buru menyimpulkan. Cukup jawab dulu di kepala, pelan-pelan. Jawabannya mungkin nggak seburuk yang kamu kira, tapi mungkin juga lebih mirip pengakuan di atas.

Apa sih tagihannya?

Pilihan yang dilandasi gengsi itu nggak gratis. Tagihannya datang pelan-pelan, dan biasanya nggak kelihatan sampai udah numpuk.

Pertama, waktu habis buat pindah-pindah. Tiap pindah framework, kita mulai lagi dari permukaan: belajar routing, belajar cara state diurus, belajar konvensi folder. Akhirnya kita tahu sedikit tentang banyak hal, tapi nggak benar-benar jago di satu hal. Pengalaman yang dalam itu butuh waktu di satu tempat, bukan di sepuluh tempat.

Kedua, kerja bareng jadi susah. Kalau cuma kamu sendiri yang paham alatnya, setiap orang lain yang menyentuh kode itu harus belajar dulu dari nol. Pilihan yang tadinya terasa "beda dan keren" berubah jadi hambatan buat orang lain.

Ketiga, dan ini yang paling parah: perlahan kita jadi orang yang nyepelein pilihan teknologi orang lain. "Oh, masih pakai itu?" Kalimat kecil begitu terdengar sepele, tapi kalau dibiasakan, cara pandang kita ikut menyempit. Padahal bisa jadi pilihan orang itu punya alasan yang jauh lebih kuat dari alasan kita sendiri. ๐Ÿ˜ฌ

Terus, apa yang akhirnya disadari?

Alat itu bukan pengganti identitas. Pelan-pelan jadi jelas bahwa orang nggak dihargai karena nama framework di CV-nya. Yang dihargai adalah hasil kerja dan cara berpikirnya: gimana memecah masalah, gimana menimbang pilihan, gimana menjelaskan keputusan ke orang lain.

Buktinya justru datang belakangan. Setelah Svelte, lalu migrasi ke Nuxt 3, sempat coba TanStack dan Astro tapi mentok di baca how-to guide, sampai akhirnya sekarang di Nuxt 4, yang kepakai bukan hafalan API masing-masing. Yang kepakai adalah cara berpikirnya. Di kerjaan sekarang, semuanya vanilla. ๐Ÿ˜ญ

Nggak ada directive spesial, nggak ada compiler yang bantu. Cuma pemahaman dasar tentang gimana web bekerja. Dan di situ kelihatan banget mana ilmu yang nempel, mana yang cuma nama.

Di sisi CSS pun ujungnya sama. Dari Bootstrap ke Tailwind, sempat PicoCSS karena ngide, balik lagi ke Tailwind. Belakangan sadar PostCSS aja udah cukup, dan sekarang pakai CSS biasa. Setelah muter sejauh itu, ternyata titik akhirnya adalah yang dulu dianggap "b aja". ๐Ÿ™ƒ

Jadi, milih yang beda itu salah?

Nggak. Ini bagian yang penting, jadi jangan salah tangkap. Memilih yang berbeda itu boleh, dan sering banget benar.

Kalau alat yang jarang dipakai ternyata memang paling cocok buat masalahmu, ya pakai aja. Syaratnya cuma dua: ada alasan teknis yang nyata, dan trade-off-nya bisa kamu jelaskan tanpa emosi. Kalau kamu bisa bilang, "ini lebih cepat buat kasus ini, tapi komunitasnya lebih kecil dan itu risikonya", berarti keputusanmu sehat.

Jadi yang keliru bukan pilihannya. Yang keliru adalah motifnya. Alat yang sama bisa jadi keputusan bagus atau keputusan gengsi, tergantung kenapa kamu memilihnya.

Penutup: tenang, kita semua pernah

Kalau dipikir-pikir, perjalanan ini lucu juga. Muter dari Angular, React, Vue, Nuxt, Svelte, sampai balik lagi ke vanilla, cuma buat sadar bahwa yang dicari dari awal ternyata bukan alat yang paling beda. Rasanya kayak keliling kota naik angkot gonta-ganti, padahal rumah cuma lima menit jalan kaki. ๐Ÿ˜‚

Jadi lain kali ada framework baru yang lagi ramai di Reddit atau Discord, tahan dulu jempolnya. Tanya dulu: ini butuh, atau cuma pengen kelihatan beda? Kalau jawabannya yang kedua, nggak apa-apa, kita semua pernah kok. Yang penting jujur dulu sama diri sendiri, baru npm install. โ˜•

Biar makin jago ngoding.

Yuk gabung bareng temen-temen developer lainnya buat dapet update teknologi, tips, dan tutorial santai tiap minggu.

Biar Nggak Kudet

Update teknologi, tips ngoding, dan insight santai langsung ke email kamu tiap minggu.

Santai, anti spam. Bisa berhenti langganan kapan aja.

Baca Selanjutnya

Lihat semua

ยฉ 2026 Inva.dev.