[{"data":1,"prerenderedAt":450},["ShallowReactive",2],{"site-header":3,"site-footer-license":37,"article-pemrograman-asynchronous-dan-multithreading-apa-bedanya-with-latest":41},{"navigations":4},[5,20],{"collection":6,"item":7},"series",{"__typename":6,"title":8,"slug":9,"children_series":10},"Artikel","all",[11,14,17],{"title":12,"slug":13},"Algoritma dan Struktur Data","algoritma-struktur-data",{"title":15,"slug":16},"Konsep Dasar Pemrograman","konsep-dasar-pemrograman",{"title":18,"slug":19},"Kecerdasan Artifisial","kecerdasan-artifisial",{"collection":6,"item":21},{"__typename":6,"title":22,"slug":23,"children_series":24},"Tutorial","tutorial",[25,28,31,34],{"title":26,"slug":27},"Belajar Java","belajar-java",{"title":29,"slug":30},"Belajar Pascal","belajar-pascal",{"title":32,"slug":33},"Belajar Python","belajar-python",{"title":35,"slug":36},"Belajar Golang","belajar-golang",{"name":38,"url":39,"show":40},"CC BY-SA","https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/",false,{"article":42,"renderedBody":408,"renderedTakeaway":409,"latestArticles":410,"toc":433},{"id":43,"title":44,"slug":45,"excerpt":46,"published_at":47,"thumbnail_image":48,"tags":50,"reading_time":54,"takeway":55,"body":56,"authors":57,"series":58},"17","Pemrograman Asynchronous vs Multithreading, Apa Sih Bedanya?","pemrograman-asynchronous-dan-multithreading-apa-bedanya","Sering dengar istilah asynchronous dan multithreading pas ngoding tapi masih bingung bedanya? Yuk, kita bedah perbedaannya lewat analogi bikin mi instan yang gampang dipahami!","2026-06-15T02:38:31.093Z",{"id":49},"9c05d0ae-e829-4f1b-b9f7-a84f3e0439d3",[51,52,53],"pemrograman","concurrency","tips-coding",null,"- Concurrency adalah konsep dasar yang memungkinkan komputer menangani beberapa tugas sekaligus agar lebih efisien.\n- Pemrograman asynchronous (asinkron) fokus pada penyelesaian tugas lain selagi menunggu proses tertentu selesai (non-blocking) menggunakan satu pekerja.\n- Pemrograman multithreading membagi tugas-tugas ke beberapa pekerja (thread) yang berjalan secara paralel di CPU.\n- Memakai banyak thread tidak selalu lebih efisien; jumlah pekerja harus disesuaikan dengan beban komputasi agar tidak mubazir.","\nPas lagi ngoding atau baca tutorial pemrograman, kalian pasti sering banget nemu dua istilah populer ini: *asynchronous* dan *multithreading*. Pernah *nggak* sih kepikiran apa sebenarnya maksud dari kedua istilah itu? Atau jangan-jangan, kalian sekarang emang lagi bingung nyari tahu bedanya? 🤔\n\nSecara garis besar, baik *asynchronous* maupun *multithreading* itu sebenarnya adalah bentuk dari *concurrency*. Sederhananya, *concurrency* adalah metode penyelesaian beberapa tugas dengan urutan eksekusi yang fleksibel alias *nggak* melulu harus berurutan secara kaku dari atas ke bawah. Biarpun urutan pengerjaannya diacak, hasil akhir yang didapat harus tetap sama dan konsisten.\n\nKarena tujuannya mirip-mirip—yaitu bikin aplikasi berjalan lebih cepat dan responsif—banyak developer pemula yang sering tertukar atau bingung membedakan keduanya. Nah, di artikel kali ini, kita bakal coba membedahnya sesederhana mungkin lewat analogi kehidupan sehari-hari agar konsepnya gampang dipahami. Yuk, mari kita bahas bareng-bareng!\n\n## Sekilas Tentang Concurrency\n\nSebelum kita masuk ke perbedaan utama, ada baiknya kita bahas sedikit soal istilah *concurrency* ini biar pondasi pemahaman kita makin kuat.\n\nSecara teknis, *concurrency* adalah kemampuan sistem untuk menangani beberapa proses komputasi dalam waktu yang bersamaan. Jadi, aplikasi kita *nggak* perlu memproses tugas satu per satu dari awal sampai selesai baru bisa lanjut ke tugas berikutnya.\n\nSadar atau *nggak*, hampir semua teknologi di sekitar kita bener-bener bergantung sama konsep *concurrency* ini. Mulai dari *smartphone*, laptop, sampai aktivitas harian kita sehari-hari.\n\nBisa kalian bayangkan, tanpa adanya *concurrency*, kita *nggak* bakal bisa ngoding sambil dengerin musik di *Spotify*, sambil *download game* di *Steam*, sambil *rendering* video, dan sambil nungguin *build* kelar. Semuanya bakal macet dan harus nunggu satu per satu selesai dulu. Menyebalkan banget, kan? 😅\n\nIntinya, *concurrency* itu adalah seni tentang melakukan berbagai hal secara 'sambil-menyambil'. Kita coba ambil contoh kasus yang lebih teknis di dunia *web development*. Bayangkan ada sebuah *web server* yang berjalan tanpa dukungan *concurrency*.\n\nMisalkan ada 10 pengguna yang melakukan *request* data secara bersamaan, dan tiap proses *request* itu butuh waktu 1 detik buat selesai. Tanpa *concurrency*, *server* terpaksa melayani permintaan tersebut secara antrean kaku satu per satu.\n\nAkibatnya, pengguna pertama cuma nunggu 1 detik, tapi pengguna kedua harus menunggu antrean pertama selesai dulu sehingga total nunggunya jadi 2 detik. Bayangkan nasib apes pengguna kesepuluh yang harus bengong selama 10 detik cuma buat melihat satu halaman web sederhana!\n\nPadahal, sebuah *server* modern kan dirancang untuk melayani ribuan hingga jutaan pengguna sekaligus setiap detiknya. Dengan adanya *concurrency*, *server* bisa merespons semua permintaan itu secara bersamaan tanpa membuat pengguna lain bosan menunggu sampai ketiduran.\n\nNah, dalam praktiknya, *concurrency* ini bisa kita terapkan lewat beberapa metode. Dua metode yang paling sering dipakai adalah *asynchronous programming* dan *multithreading* yang bakal kita bahas di bawah.\n\n## Mengenal Asynchronous Programming\n\n*Asynchronous programming*—atau yang biasa kita sebut pemrograman asinkron—adalah teknik *concurrency* yang membebaskan sistem untuk menjalankan perintah baru tanpa harus menunggu perintah sebelumnya kelar.\n\nKarena antar-perintah *nggak* saling mengunci atau memblokir, komputer bisa mengerjakan tugas lain selagi menunggu proses yang butuh waktu lama (misalnya mengambil data dari *database* atau memanggil *external API*). Istilah kerennya, ini disebut dengan *non-blocking execution*.\n\nLawan dari asinkron adalah *synchronous programming* (sinkron). Di pemrograman sinkron, jalannya aplikasi bener-bener kaku karena tiap baris kode harus dieksekusi berurutan secara *blocking execution*. Jadi kalau baris nomor satu belum kelar, baris nomor dua *nggak* bakal pernah disentuh.\n\nBiar gampang membayangkannya, mari kita pakai analogi memasak mi instan goreng ditambah telur dadar. Biasanya, urutan memasak yang efisien bakal kayak gini:\n\n1. Rebus air di dalam panci.\n2. Selagi nunggu air panas, buka bungkus mi instan dan tuang bumbunya ke piring.\n3. Masih dalam waktu tunggu air mendidih, kalian panaskan wajan dan goreng telurnya sampai matang, lalu tiriskan.\n4. Pas air udah mendidih, masukkan mi ke dalam panci.\n5. Tunggu mi sampai matang dan kenyal.\n6. Setelah matang, buang air rebusannya.\n7. Campurkan mi ke piring bumbu, aduk rata.\n8. Sajikan telur dadar di atas mi goreng hangat.\n9. Mi siap disantap! 😋\n\nSecara *nggak* sadar, proses masak yang biasa kalian lakukan itu udah menerapkan konsep *asynchronous*, lho! Letak asinkronnya ada pada momen ketika kalian memanfaatkan waktu tunggu rebusan air untuk menyiapkan piring bumbu dan menggoreng telur.\n\nBayangkan kalau kalian memasak pakai metode *synchronous* yang kaku. Kalian harus merebus air dan mi sampai matang dulu, menaruhnya di piring, baru setelah itu boleh menyalakan wajan buat menggoreng telur. Alhasil, mi kalian udah keburu dingin dan melar duluan sebelum telurnya matang. *Nggak* efisien banget dan bikin lapar duluan, kan?\n\nDi dunia nyata, pemrograman asinkron ini udah jadi bagian penting dari aplikasi modern. Contoh paling dekat adalah *web browser* yang kalian pakai saat ini. Hampir semua proses di balik layar terjadi secara asinkron.\n\nBahkan, *JavaScript* yang merupakan bahasa pemrograman utama di *web browser* bekerja secara penuh menggunakan sistem *asynchronous* lewat mekanisme yang disebut *event loop*.\n\nBuktinya sederhana: kalian masih bisa nge-*scroll* halaman atau ngeklik tombol lain saat halaman web masih dalam proses *loading*. Kalau *JavaScript* berjalan secara sinkron, browser bakal langsung *freeze* total dan *nggak* bisa merespons apa pun sampai seluruh konten selesai diunduh.\n\n## Memahami Multi-thread Programming\n\nKalau pemrograman asinkron memanfaatkan waktu tunggu buat mengerjakan tugas lain, pemrograman *multi-thread* bekerja dengan cara menjalankan beberapa proses secara benar-benar bersamaan di waktu yang sama.\n\nPemrograman *multi-thread* adalah kondisi di mana tugas-tugas dibagi dan dijalankan secara paralel oleh beberapa pekerja (*worker*) yang berbeda di dalam sistem komputer.\n\nKalian pasti udah sering melihat spesifikasi prosesor komputer atau *smartphone* yang mencantumkan istilah *dual-core*, *quad-core*, atau *octa-core*. Di dalam masing-masing *core* itu, biasanya masih dibagi lagi menjadi beberapa alur kerja yang kita sebut dengan *thread*.\n\nNah, tiap *thread* di dalam CPU ini bisa kita bayangkan sebagai satu pekerja terpisah.\n\nKalau kita menulis kode biasa (*single-threaded*), kita cuma menyuruh satu pekerja untuk membereskan semua tugas. Tapi dengan *multi-thread*, kita bisa mengerahkan beberapa pekerja sekaligus untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan secara serentak.\n\nMari kita bawa kembali contoh kasus memasak mi instan dan telur goreng tadi.\n\nJika di metode asinkron kalian memasak semuanya sendirian dengan berpindah-pindah tugas, maka di metode *multi-thread* kalian bakal mengajak satu teman lagi buat berbagi tugas di dapur. Kalian fokus merebus mi, sedangkan teman kalian fokus menggoreng telur. Dengan cara ini, kedua pekerjaan benar-benar jalan bersamaan di bawah kendali dua orang yang berbeda.\n\nNamun perlu diingat, menggunakan banyak pekerja di pemrograman *multi-thread* *nggak* selalu menjamin semuanya bakal jadi lebih efisien. Kadang-masing, terlalu banyak pekerja malah bikin suasana jadi kacau dan boros sumber daya, sehingga pendekatan *single-thread* malah lebih cocok.\n\nEfisiensi maksimal dari *multi-thread* baru akan terasa kalau tugas yang dibagi itu sifatnya independen dan *nggak* saling ketergantungan satu sama lain.\n\nMisalkan kita bikin analogi ekstrem: kalian memanggil 3 orang teman buat membantu memasak sebungkus mi instan. Sekarang ada 4 orang di dapur yang dibagi menjadi dua tim: Tim Mi dan Tim Telur.\n\nLalu tiap tim membagi tugasnya secara super detail:\n\n- Orang pertama Tim Mi tugasnya cuma merebus air dan meniriskan mi.\n- Orang kedua Tim Mi tugasnya menuangkan bumbu dan mengaduk mi.\n- Orang pertama Tim Telur bertugas memanaskan wajan dan memecahkan telur.\n- Orang kedua Tim Telur bertugas menggoreng telur dan meniriskan minyak.\n\nKebayang kan betapa ribetnya dapur kalian nanti? Setiap orang bakal banyak menganggur karena harus saling menunggu giliran tugas kecilnya selesai. Memasak sebungkus mi goreng yang harusnya simpel malah jadi kacau dan *nggak* efisien sama sekali karena terlalu banyak koordinasi di antara para pekerja. 😭\n\nMakanya, untuk kasus-kasus sederhana, satu pekerja saja sebenarnya sudah lebih dari cukup.\n\n## Kesimpulan\n\nKalau kita rangkum, perbedaan mendasar dari kedua metode ini terletak pada jumlah pekerja (*thread*) yang dikerahkan dan bagaimana cara mereka mengeksekusi tugas-tugas tersebut.\n\nPemrograman asinkron fokus pada bagaimana satu pekerja dapat berpindah tugas dengan cerdas tanpa terhambat oleh proses yang lambat. Sementara itu, pemrograman *multi-thread* berfokus pada pembagian tugas ke beberapa pekerja sekaligus agar bisa dikerjakan secara paralel di saat yang bersamaan.\n\nBiar gampang diingat, berikut tabel ringkasan perbandingannya:\n\n| Metode | Jumlah Pekerja | Cara Kerja |\n| :--- | :--- | :--- |\n| *Asynchronous* | Cukup Satu Pekerja | Mengerjakan tugas lain selagi menunggu tugas yang lambat |\n| *Multi-thread* | Banyak Pekerja (Lebih dari 1) | Membagi-bagi tugas untuk dikerjakan secara bersamaan |\n\nSemoga sekarang kalian *nggak* bingung lagi ya membedakan kedua konsep *concurrency* ini!\n\nSelamat belajar dan selamat merancang kode yang efisien! 👋\n\n## Referensi\n\n- [Introducing asynchronous JavaScript - MDN Web Docs](https://developer.mozilla.org/en-US/docs/Learn/JavaScript/Asynchronous/Introducing)\n- [Reading 19: Concurrency - MIT, Software Construction](https://web.mit.edu/6.031/www/fa17/classes/19-concurrency/)",[],{"id":59,"title":8,"slug":9,"articles":60,"parent_series":54},"9",[61,77,90,102,105,118,130,141,153,164,175,185,195,206,215,226,237,247,255,266,277,288,296,305,314,327,336,347,358,368,377,386,396],{"id":62,"title":63,"slug":64,"excerpt":65,"thumbnail_image":66,"tags":68},"41","Log Aggregation Modern dengan Grafana Loki dan Vector: Hemat Storage Tanpa Indeks Raksasa","log-aggregation-modern-grafana-loki-vector-hemat-storage","Klaster Elasticsearch kalian rakus RAM dan boros storage, ya? Padahal nggak semua kata di log perlu diindeks, lho. Yuk, kita kenalan sama duet Grafana Loki dan Vector yang jauh lebih ramah kantong!",{"id":67},"03c9d1a0-c80a-401d-9f2b-2b3ee7abb115",[69,70,71,72,73,74,75,76],"backend","observa","logging","grafana","loki","vector","devops","system-design",{"id":78,"title":79,"slug":80,"excerpt":81,"thumbnail_image":82,"tags":84},"45","Rate Limiting Algorithms: Token Bucket vs Leaky Bucket vs Sliding Window","rate-limiting-algorithms-token-bucket-leaky-bucket-sliding-window","Udah tahu kenapa *rate limiting* itu wajib, tapi masih bingung beda Token Bucket, Leaky Bucket, Fixed Window, dan Sliding Window? Yuk, kita adu empat algoritma ini bareng-bareng dan cari tahu mana yang paling pas buat API kalian!",{"id":83},"0e0ed26d-20c6-443c-bde1-4a6200f6f801",[69,76,85,86,87,88,89],"rate-limiting","redis","api-gateway","architecture","traffict-management",{"id":91,"title":92,"slug":93,"excerpt":94,"thumbnail_image":95,"tags":97},"16","Menggunakan TypeScript dengan Node.js dan Express","menggunakan-typescript-dengan-node-js-dan-express","Pengen bikin server Express di Node.js tapi pakai fitur-fitur keren TypeScript? Yuk, intip cara setup lengkapnya dari nol di sini!",{"id":96},"798b60f1-9ef5-4f73-8d43-85825fd86acc",[98,99,100,101],"javascript","nodejs","express","typescript",{"id":43,"title":44,"slug":45,"excerpt":46,"thumbnail_image":103,"tags":104},{"id":49},[51,52,53],{"id":106,"title":107,"slug":108,"excerpt":109,"thumbnail_image":110,"tags":112},"33","Berkenalan dengan RabbitMQ: Si Kurir Pesan Serba Bisa","berkenalan-dengan-rabbitmq-si-kurir-pesan-serba-bisa","Pernah nggak sih kalian klik Bayar Sekarang dan notifikasi suksesnya muncul seketika, padahal email konfirmasi baru nyampe beberapa detik kemudian? Rahasianya ada di satu kurir tak terlihat. Yuk, kita kenalan sama RabbitMQ!",{"id":111},"f6620f79-b3b2-4f9c-8104-283a335e06c4",[113,114,69,115,116,117],"rabbitmq","message-broker","microservices","async","queue",{"id":119,"title":120,"slug":121,"excerpt":122,"thumbnail_image":123,"tags":125},"34","Kenapa Backend Butuh Database Connection Pooling?","kenapa-backend-butuh-database-connection-pooling","Pernah kena error Too many connections padahal CPU server masih santai di angka 30%? Masalahnya bukan di query kalian, tapi di cara aplikasi ngobrol sama database. Yuk, kenalan sama Connection Pooling!",{"id":124},"6f7a2d8c-2a37-4901-a522-50df8d9c0a20",[69,126,127,128,76,129],"database","postgresql","connection-pooling","performance",{"id":131,"title":132,"slug":133,"excerpt":134,"thumbnail_image":135,"tags":137},"27","Background Worker & Task Queue: Jangan Jalankan Proses Berat di Request HTTP!","background-worker-task-queue-jangan-jalankan-proses-berat-di-http","Pernah nggak sih kalian klik Daftar Akun lalu halaman loading muter sampai 15 detik tanpa kepastian? Penyebabnya klasik banget. Yuk, kita bahas kenapa proses berat nggak boleh dijalanin di request HTTP!",{"id":136},"e119c6ad-fc37-4b92-abdc-3eb20f8e34b4",[69,138,139,140,113,86,116],"task-queue","celery","fastapi",{"id":142,"title":143,"slug":144,"excerpt":145,"thumbnail_image":146,"tags":148},"28","Mengatasi N+1 Query Problem: Musuh Tersembunyi Performa Backend","mengatasi-n-plus-1-query-problem-musuh-tersembunyi-backend","Pernah bikin endpoint yang cuma nampilin 50 postingan beserta nama penulisnya, tapi response-nya lambat banget? Bisa jadi kalian kena N+1 Query. Yuk, kita bedah penyebabnya dan cara memberantasnya!",{"id":147},"34b94e14-3e9a-4778-9f1f-6df5898915fb",[126,149,150,151,152,129,69],"sql","orm","sqlalchemy","django",{"id":154,"title":155,"slug":156,"excerpt":157,"thumbnail_image":158,"tags":160},"30","Berkenalan dengan Bahasa Go: Kenapa Banyak Dipakai untuk Backend Modern?","berkenalan-dengan-bahasa-go-untuk-backend-modern","Kok bisa sih Go yang masih muda ini jadi bahasa andalan Docker sampai Kubernetes? Yuk, kita kenalan sama Goroutine, Channel, dan alasan dia hemat memori luar biasa!",{"id":159},"a368631c-f331-4c50-8322-1d0fc44927aa",[161,162,69,52,163,76],"golang","go","goroutine",{"id":165,"title":166,"slug":167,"excerpt":168,"thumbnail_image":169,"tags":171},"13","Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Pindah ke Linux","hal-yang-perlu-diperhatikan-sebelum-pindah-ke-linux","Tertarik migrasi dari Windows ke Linux tapi masih ragu? Yuk, pelajari kelebihan, kekurangan, dan persiapan penting sebelum kamu benar-benar pindah!",{"id":170},"ae27713e-5025-4d13-88b6-efb4860cc5b3",[172,173,174],"linux","windows","foss",{"id":176,"title":177,"slug":178,"excerpt":179,"thumbnail_image":180,"tags":182},"11","Apa Kabar JavaScript? Rilis State of JS 2022","apa-kabar-javascript-rilis-state-of-js-2022","Survei State of JS 2022 resmi dirilis dengan lonjakan responden yang luar biasa! Framework dan build tool apa saja yang berhasil mencuri perhatian tahun ini?",{"id":181},"18df5262-d813-43d1-b1f7-5595a7f53602",[98,183,184],"web","news",{"id":186,"title":187,"slug":188,"excerpt":189,"thumbnail_image":190,"tags":192},"12","Buat PowerShell Lebih Berwarna dengan Starship","buat-powershell-lebih-berwarna-dengan-starship","Bosen sama tampilan PowerShell yang hitam putih dan kaku? Yuk, sulap terminalmu jadi lebih interaktif, estetik, dan berwarna pakai Starship!",{"id":191},"c5a8262b-43db-4479-8f6c-5a6a0d61653b",[193,173,194],"shell","powershell",{"id":196,"title":197,"slug":198,"excerpt":199,"thumbnail_image":200,"tags":202},"14","Instalasi Java dengan Visual Studio Code","instalasi-java-dengan-visual-studio-code","Mau belajar ngoding Java tapi spek laptop pas-pasan buat buka IDE berat? Yuk, cari tahu cara setup VS Code biar ngoding Java tetap lancar dan enteng!",{"id":201},"99b01cc2-11ac-4449-9927-a1a7116347df",[203,204,205],"howto","java","editor",{"id":207,"title":208,"slug":209,"excerpt":210,"thumbnail_image":211,"tags":213},"15","Kenapa Ada Banyak Sekali Distro Linux?","kenapa-ada-banyak-sekali-distro-linux","Pernah bingung pas mau install Linux tapi malah disuguhi puluhan pilihan distro? Tenang, kalian nggak sendirian. Yuk, cari tahu kenapa distro Linux bisa sebanyak itu dan apa bedanya!",{"id":212},"b5352a4b-f274-4489-aca9-36814947d514",[172,214],"distro",{"id":216,"title":217,"slug":218,"excerpt":219,"thumbnail_image":220,"tags":222},"18","React, Angular, atau Vue: Pilih Framework yang Mana?","react-angular-vue-pilih-framework-yang-mana","Bingung menentukan pilihan di antara React, Angular, dan Vue untuk proyek web kalian berikutnya? Tenang, yuk kita bandingkan kelebihan masing-masing di sini!",{"id":221},"ff111270-80c2-4ccb-83d7-d5ab8c021201",[223,224,225],"web-development","frontend","framework",{"id":227,"title":228,"slug":229,"excerpt":230,"thumbnail_image":231,"tags":233},"19","Static Typing dan Dynamic Typing: Apa Bedanya?","static-typing-dan-dynamic-typing-apa-bedanya","Pernah bingung kenapa di Java tipe data harus dideklarasikan, sementara di Python tinggal pakai aja? Yuk, cari tahu perbedaan static typing dan dynamic typing di sini!",{"id":232},"98e85e76-9e7b-42d1-b989-7c75e7f49abc",[234,235,236],"programming","types","comparison",{"id":238,"title":239,"slug":240,"excerpt":241,"thumbnail_image":242,"tags":244},"20","Tailwind v3.0 Rilis: Ada JIT, Arbitrary Values, dan Banyak Lagi!","tailwind-v3-0-rilis-jit-arbitrary-dan-banyak-lagi","Tailwind CSS v3.0 resmi dirilis dengan segudang peningkatan performa yang bikin proses coding makin asyik. Apa aja sih fitur andalan yang wajib dicoba?",{"id":243},"d5e879fa-5cd0-4015-a155-b0cc69ff12fb",[245,246,223],"tailwind-css","css-framework",{"id":248,"title":249,"slug":250,"excerpt":251,"thumbnail_image":252,"tags":254},"21","TypeScript: JavaScript dengan Gaya dan Tipe Data Statis","typescript-javascript-dengan-gaya","Pernah pusing gara-gara runtime error di JavaScript? Yuk, kenalan dengan TypeScript yang bawa fitur static typing biar kode kalian makin rapi dan aman!",{"id":253},"f615bb1f-8e36-4d6c-9c2c-f1629407173c",[101,98,223],{"id":256,"title":257,"slug":258,"excerpt":259,"thumbnail_image":260,"tags":262},"22","Yang Baru di Nuxt 3: Nitro Engine, Vite, dan Fitur Keren Lainnya","yang-baru-di-nuxt-3-nitro-vite-dan-banyak-lagi","Nuxt 3 hadir membawa perubahan arsitektur besar-besaran untuk menyelaraskan dengan Vue 3. Penasaran apa saja peningkatan performa dan fitur barunya?",{"id":261},"8444bdbc-f60c-4d8b-8593-1b49400e8659",[263,264,265],"nuxt-3","vue-3","frontend-framework",{"id":267,"title":268,"slug":269,"excerpt":270,"thumbnail_image":271,"tags":273},"23","Kenapa Pakai FastAPI dan Kenapa Dia Kenceng Banget?","kenapa-pakai-fastapi-dan-kenapa-dia-kenceng-banget","Sering dengar FastAPI tapi masih bingung kenapa dia bisa ngebut kayak NodeJS dan Go? Yuk, kita bedah bareng rahasia ASGI, sihir Pydantic, sampai dokumentasi otomatisnya!",{"id":272},"84847c9e-70ab-4dcc-bed7-7be50165f7f4",[140,274,69,275,276],"python","asgi","pydantic",{"id":278,"title":279,"slug":280,"excerpt":281,"thumbnail_image":282,"tags":284},"26","REST API vs gRPC: Kapan Sebaiknya Mulai Pindah dari JSON?","rest-api-vs-grpc-kapan-sebaiknya-pindah-dari-json","Pernah nggak sih sistem mikroservis kalian mulai kerasa berat padahal cuma tuker-tukeran data internal? Belum tentu masalah servernya. Yuk, kita bahas kapan REST + JSON masih juara dan kapan gRPC jadi jawabannya!",{"id":283},"487500a0-9e09-469d-8736-1583c5ea83aa",[69,285,286,115,287,76],"grpc","rest-api","protobuf",{"id":289,"title":290,"slug":291,"excerpt":292,"thumbnail_image":293,"tags":295},"38","Optimistic vs Pessimistic Locking: Mengatasi Rebutan Data di Database","optimistic-vs-pessimistic-locking-mengatasi-rebutan-data-di-database","Seribu orang ngeklik \"Beli Sekarang\" di detik yang sama buat rebutan 1 tiket terakhir. Kira-kira apa yang bakal terjadi di server kalian? Yuk, kita banding *pessimistic* sama *optimistic locking*!",{"id":294},"21ab769d-6f82-4a22-be11-17ac16e9fb6b",[69,126,52,127,76,88,149],{"id":297,"title":298,"slug":299,"excerpt":300,"thumbnail_image":301,"tags":303},"24","Kenapa Butuh Rate Limiting?","kenapa-butuh-rate-limiting","Pernah nggak sih endpoint login kalian diserbu bot yang nyoba nembak ribuan password cuma dalam semenit? Yuk, kita bahas kenapa Rate Limiting itu wajib, plus cara masangnya di FastAPI!",{"id":302},"1401f9e5-6359-404a-8d80-273ddee9a372",[69,85,76,304,86,140],"api",{"id":306,"title":307,"slug":308,"excerpt":309,"thumbnail_image":310,"tags":312},"25","Kenapa Event Queue Bikin Backend Kalian Nggak Gampang Tumbang?","kenapa-event-queue-bikin-backend-kamu-nggak-gampang-tumbang","Pernah klik tombol Beli Sekarang dan notifikasi suksesnya muncul dalam sekejap, padahal di belakang layar ada invoice, email, sampai push notification yang harus dibuat? Rahasianya Event Queue. Yuk, kita bedah!",{"id":311},"d9e76018-fbcc-4c69-ad42-8f75ff229ecd",[69,76,313,114,88],"event-queue",{"id":315,"title":316,"slug":317,"excerpt":318,"thumbnail_image":319,"tags":321},"46","Mengapa C Mulai Ditinggalkan: Duel Filosofi Keamanan Rust vs Kesederhanaan Zig","mengapa-c-mulai-ditinggalkan-duel-filosofi-rust-vs-zig","Pernah denger kalau sekitar 70% celah keamanan kritis software modern itu asalnya dari bahasa C? Iya, bahasa yang udah jadi fondasi internet ini 😅. Yuk, kita bedah duel filosofi Rust vs Zig dan cari tahu mana yang pas buat proyek kalian!",{"id":320},"1942a5c9-c1f6-476d-9913-768f78d9d8eb",[322,323,324,325,326],"system-programming","rust","zig","c","memory-safety",{"id":328,"title":329,"slug":330,"excerpt":331,"thumbnail_image":332,"tags":334},"29","Memahami Database Indexing: Rahasia Query Super Cepat","memahami-database-indexing-rahasia-query-super-cepat","Query kalian mulai lelet padahal data baru nembus jutaan baris? Sebelum buru-buru *upgrade* server, yuk cek dulu *index*-nya. Yuk, kita bedah gimana *database indexing* sebenernya kerja!",{"id":333},"b123036f-1779-478c-a545-cf5f189b5fe9",[126,149,127,335,129,69],"indexing",{"id":337,"title":338,"slug":339,"excerpt":340,"thumbnail_image":341,"tags":343},"31","Mengenal Redis: Lebih dari Sekadar In-Memory Cache","mengenal-redis-lebih-dari-sekadar-in-memory-cache","Masih nganggep Redis cuma buat caching? Padahal dia bisa jadi leaderboard, message broker, sampai rate limiter lho. Yuk, kita bedah semua kemampuannya!",{"id":342},"9595b7d7-60e0-48f5-a715-f3cf60f34e1d",[86,69,344,345,346,274],"cache","nosql","in-memory",{"id":348,"title":349,"slug":350,"excerpt":351,"thumbnail_image":352,"tags":354},"32","Docker Compose untuk Developer Santai: Satu Perintah Buat Jalankan Semua Service","docker-compose-untuk-developer-santai","Pernah nggak kalian ngulang-ngulang perintah `docker run` cuma buat nyalain web, database, dan cache satu-satu? Capek, kan? Yuk, kita rapikan semuanya jadi satu file dan satu perintah!",{"id":353},"f4c08f1b-e0d0-410c-b091-c3618944fb3e",[355,356,75,357,69],"docker","docker-compose","containers",{"id":359,"title":360,"slug":361,"excerpt":362,"thumbnail_image":363,"tags":365},"35","Mengenal Idempotency Key: Rahasia Anti-Double Charge di API Pembayaran","mengenal-idempotency-key-rahasia-anti-double-charge-di-api-pembayaran","Pernah internet kalian ngadat pas lagi nekan tombol Bayar, terus panik ngekliknya tiga kali? Kalau endpoint-nya nggak idempotent, saldo bisa kepotong berkali-kali. Yuk, kenalan sama Idempotency Key!",{"id":364},"724cb83a-3ce5-4ee2-b0d7-533e3a0fc7df",[69,304,366,76,367,140,86],"idempotency","payment",{"id":369,"title":370,"slug":371,"excerpt":372,"thumbnail_image":373,"tags":375},"36","Mencegah Efek Domino di Mikroservis dengan Circuit Breaker Pattern","mencegah-efek-domino-di-mikroservis-dengan-circuit-breaker-pattern","Pernah nggak sih, satu fitur minor di aplikasi kalian mendadak lelet, eh malah bikin halaman checkout dan login ikut down total? Itu namanya *cascading failure*. Yuk, kita bahas gimana *circuit breaker pattern* (pemutus arus) nyelametin arsitektur kalian!",{"id":374},"c2e8e37f-8f9a-423f-a09d-74613b3c2924",[69,115,376,76,88],"circuit-breaker",{"id":378,"title":379,"slug":380,"excerpt":381,"thumbnail_image":382,"tags":384},"37","Kenapa Backend Butuh Graceful Shutdown? Jangan Asal Cabut Kabel Server!","kenapa-backend-butuh-graceful-shutdown-jangan-asal-cabut-kabel-server","Pernah nggak sih, abis kalian nge-*deploy* backend, beberapa detik kemudian monitoring malah banjir *alert* **502 Bad Gateway** dari pengguna? Saldo udah kepotong tapi status order belum keburu ter-*update* di *database*. Yuk, kita bahas kenapa *graceful shutdown* itu wajib banget!",{"id":383},"251a54a7-1d24-47fd-8cbc-a46fd42cbb6f",[69,75,140,355,385,76,88],"kubernetes",{"id":387,"title":388,"slug":389,"excerpt":390,"thumbnail_image":391,"tags":393},"39","Database Sharding vs Partitioning: Kapan Data Perlu Dipecah?","database-sharding-vs-partitioning-kapan-data-perlu-dipecah","Tabel transaksi kalian udah nembus miliaran baris dan tiap *query* laporan bikin *CPU* melonjak 100%? Sebelum asal pecah data, yuk kita pahami dulu beda *sharding* sama *partitioning*!",{"id":392},"08ef5fe5-d935-47b3-bbbc-d976948b2a9e",[69,126,127,76,88,394,395],"sharding","scaling",{"id":397,"title":398,"slug":399,"excerpt":400,"thumbnail_image":401,"tags":403},"40","Menyelami Distributed Tracing: Melacak Jejak Request di Balik Keruwetan Microservices","menyelami-distributed-tracing-melacak-jejak-request-microservices","Satu klik Checkout di backend kalian bisa memicu puluhan network call antar-service, tapi pas ada yang lambat, service mana sebenernya yang salah? Log aja nggak cukup buat njawab itu. Yuk, kita bedah Distributed Tracing!",{"id":402},"1ace92fa-b89c-4cef-ab75-4e4cd67a089c",[69,404,405,406,115,88,407],"distributed-systems","observability","open-telemetry","tracing","\u003Cp>Pas lagi ngoding atau baca tutorial pemrograman, kalian pasti sering banget nemu dua istilah populer ini: \u003Cem>asynchronous\u003C/em> dan \u003Cem>multithreading\u003C/em>. Pernah \u003Cem>nggak\u003C/em> sih kepikiran apa sebenarnya maksud dari kedua istilah itu? Atau jangan-jangan, kalian sekarang emang lagi bingung nyari tahu bedanya? 🤔\u003C/p>\n\u003Cp>Secara garis besar, baik \u003Cem>asynchronous\u003C/em> maupun \u003Cem>multithreading\u003C/em> itu sebenarnya adalah bentuk dari \u003Cem>concurrency\u003C/em>. Sederhananya, \u003Cem>concurrency\u003C/em> adalah metode penyelesaian beberapa tugas dengan urutan eksekusi yang fleksibel alias \u003Cem>nggak\u003C/em> melulu harus berurutan secara kaku dari atas ke bawah. Biarpun urutan pengerjaannya diacak, hasil akhir yang didapat harus tetap sama dan konsisten.\u003C/p>\n\u003Cp>Karena tujuannya mirip-mirip—yaitu bikin aplikasi berjalan lebih cepat dan responsif—banyak developer pemula yang sering tertukar atau bingung membedakan keduanya. Nah, di artikel kali ini, kita bakal coba membedahnya sesederhana mungkin lewat analogi kehidupan sehari-hari agar konsepnya gampang dipahami. Yuk, mari kita bahas bareng-bareng!\u003C/p>\n\u003Ch2 id=\"sekilas-tentang-concurrency\">Sekilas Tentang Concurrency\u003C/h2>\n\u003Cp>Sebelum kita masuk ke perbedaan utama, ada baiknya kita bahas sedikit soal istilah \u003Cem>concurrency\u003C/em> ini biar pondasi pemahaman kita makin kuat.\u003C/p>\n\u003Cp>Secara teknis, \u003Cem>concurrency\u003C/em> adalah kemampuan sistem untuk menangani beberapa proses komputasi dalam waktu yang bersamaan. Jadi, aplikasi kita \u003Cem>nggak\u003C/em> perlu memproses tugas satu per satu dari awal sampai selesai baru bisa lanjut ke tugas berikutnya.\u003C/p>\n\u003Cp>Sadar atau \u003Cem>nggak\u003C/em>, hampir semua teknologi di sekitar kita bener-bener bergantung sama konsep \u003Cem>concurrency\u003C/em> ini. Mulai dari \u003Cem>smartphone\u003C/em>, laptop, sampai aktivitas harian kita sehari-hari.\u003C/p>\n\u003Cp>Bisa kalian bayangkan, tanpa adanya \u003Cem>concurrency\u003C/em>, kita \u003Cem>nggak\u003C/em> bakal bisa ngoding sambil dengerin musik di \u003Cem>Spotify\u003C/em>, sambil \u003Cem>download game\u003C/em> di \u003Cem>Steam\u003C/em>, sambil \u003Cem>rendering\u003C/em> video, dan sambil nungguin \u003Cem>build\u003C/em> kelar. Semuanya bakal macet dan harus nunggu satu per satu selesai dulu. Menyebalkan banget, kan? 😅\u003C/p>\n\u003Cp>Intinya, \u003Cem>concurrency\u003C/em> itu adalah seni tentang melakukan berbagai hal secara &#39;sambil-menyambil&#39;. Kita coba ambil contoh kasus yang lebih teknis di dunia \u003Cem>web development\u003C/em>. Bayangkan ada sebuah \u003Cem>web server\u003C/em> yang berjalan tanpa dukungan \u003Cem>concurrency\u003C/em>.\u003C/p>\n\u003Cp>Misalkan ada 10 pengguna yang melakukan \u003Cem>request\u003C/em> data secara bersamaan, dan tiap proses \u003Cem>request\u003C/em> itu butuh waktu 1 detik buat selesai. Tanpa \u003Cem>concurrency\u003C/em>, \u003Cem>server\u003C/em> terpaksa melayani permintaan tersebut secara antrean kaku satu per satu.\u003C/p>\n\u003Cp>Akibatnya, pengguna pertama cuma nunggu 1 detik, tapi pengguna kedua harus menunggu antrean pertama selesai dulu sehingga total nunggunya jadi 2 detik. Bayangkan nasib apes pengguna kesepuluh yang harus bengong selama 10 detik cuma buat melihat satu halaman web sederhana!\u003C/p>\n\u003Cp>Padahal, sebuah \u003Cem>server\u003C/em> modern kan dirancang untuk melayani ribuan hingga jutaan pengguna sekaligus setiap detiknya. Dengan adanya \u003Cem>concurrency\u003C/em>, \u003Cem>server\u003C/em> bisa merespons semua permintaan itu secara bersamaan tanpa membuat pengguna lain bosan menunggu sampai ketiduran.\u003C/p>\n\u003Cp>Nah, dalam praktiknya, \u003Cem>concurrency\u003C/em> ini bisa kita terapkan lewat beberapa metode. Dua metode yang paling sering dipakai adalah \u003Cem>asynchronous programming\u003C/em> dan \u003Cem>multithreading\u003C/em> yang bakal kita bahas di bawah.\u003C/p>\n\u003Ch2 id=\"mengenal-asynchronous-programming\">Mengenal Asynchronous Programming\u003C/h2>\n\u003Cp>\u003Cem>Asynchronous programming\u003C/em>—atau yang biasa kita sebut pemrograman asinkron—adalah teknik \u003Cem>concurrency\u003C/em> yang membebaskan sistem untuk menjalankan perintah baru tanpa harus menunggu perintah sebelumnya kelar.\u003C/p>\n\u003Cp>Karena antar-perintah \u003Cem>nggak\u003C/em> saling mengunci atau memblokir, komputer bisa mengerjakan tugas lain selagi menunggu proses yang butuh waktu lama (misalnya mengambil data dari \u003Cem>database\u003C/em> atau memanggil \u003Cem>external API\u003C/em>). Istilah kerennya, ini disebut dengan \u003Cem>non-blocking execution\u003C/em>.\u003C/p>\n\u003Cp>Lawan dari asinkron adalah \u003Cem>synchronous programming\u003C/em> (sinkron). Di pemrograman sinkron, jalannya aplikasi bener-bener kaku karena tiap baris kode harus dieksekusi berurutan secara \u003Cem>blocking execution\u003C/em>. Jadi kalau baris nomor satu belum kelar, baris nomor dua \u003Cem>nggak\u003C/em> bakal pernah disentuh.\u003C/p>\n\u003Cp>Biar gampang membayangkannya, mari kita pakai analogi memasak mi instan goreng ditambah telur dadar. Biasanya, urutan memasak yang efisien bakal kayak gini:\u003C/p>\n\u003Col>\n\u003Cli>Rebus air di dalam panci.\u003C/li>\n\u003Cli>Selagi nunggu air panas, buka bungkus mi instan dan tuang bumbunya ke piring.\u003C/li>\n\u003Cli>Masih dalam waktu tunggu air mendidih, kalian panaskan wajan dan goreng telurnya sampai matang, lalu tiriskan.\u003C/li>\n\u003Cli>Pas air udah mendidih, masukkan mi ke dalam panci.\u003C/li>\n\u003Cli>Tunggu mi sampai matang dan kenyal.\u003C/li>\n\u003Cli>Setelah matang, buang air rebusannya.\u003C/li>\n\u003Cli>Campurkan mi ke piring bumbu, aduk rata.\u003C/li>\n\u003Cli>Sajikan telur dadar di atas mi goreng hangat.\u003C/li>\n\u003Cli>Mi siap disantap! 😋\u003C/li>\n\u003C/ol>\n\u003Cp>Secara \u003Cem>nggak\u003C/em> sadar, proses masak yang biasa kalian lakukan itu udah menerapkan konsep \u003Cem>asynchronous\u003C/em>, lho! Letak asinkronnya ada pada momen ketika kalian memanfaatkan waktu tunggu rebusan air untuk menyiapkan piring bumbu dan menggoreng telur.\u003C/p>\n\u003Cp>Bayangkan kalau kalian memasak pakai metode \u003Cem>synchronous\u003C/em> yang kaku. Kalian harus merebus air dan mi sampai matang dulu, menaruhnya di piring, baru setelah itu boleh menyalakan wajan buat menggoreng telur. Alhasil, mi kalian udah keburu dingin dan melar duluan sebelum telurnya matang. \u003Cem>Nggak\u003C/em> efisien banget dan bikin lapar duluan, kan?\u003C/p>\n\u003Cp>Di dunia nyata, pemrograman asinkron ini udah jadi bagian penting dari aplikasi modern. Contoh paling dekat adalah \u003Cem>web browser\u003C/em> yang kalian pakai saat ini. Hampir semua proses di balik layar terjadi secara asinkron.\u003C/p>\n\u003Cp>Bahkan, \u003Cem>JavaScript\u003C/em> yang merupakan bahasa pemrograman utama di \u003Cem>web browser\u003C/em> bekerja secara penuh menggunakan sistem \u003Cem>asynchronous\u003C/em> lewat mekanisme yang disebut \u003Cem>event loop\u003C/em>.\u003C/p>\n\u003Cp>Buktinya sederhana: kalian masih bisa nge-\u003Cem>scroll\u003C/em> halaman atau ngeklik tombol lain saat halaman web masih dalam proses \u003Cem>loading\u003C/em>. Kalau \u003Cem>JavaScript\u003C/em> berjalan secara sinkron, browser bakal langsung \u003Cem>freeze\u003C/em> total dan \u003Cem>nggak\u003C/em> bisa merespons apa pun sampai seluruh konten selesai diunduh.\u003C/p>\n\u003Ch2 id=\"memahami-multi-thread-programming\">Memahami Multi-thread Programming\u003C/h2>\n\u003Cp>Kalau pemrograman asinkron memanfaatkan waktu tunggu buat mengerjakan tugas lain, pemrograman \u003Cem>multi-thread\u003C/em> bekerja dengan cara menjalankan beberapa proses secara benar-benar bersamaan di waktu yang sama.\u003C/p>\n\u003Cp>Pemrograman \u003Cem>multi-thread\u003C/em> adalah kondisi di mana tugas-tugas dibagi dan dijalankan secara paralel oleh beberapa pekerja (\u003Cem>worker\u003C/em>) yang berbeda di dalam sistem komputer.\u003C/p>\n\u003Cp>Kalian pasti udah sering melihat spesifikasi prosesor komputer atau \u003Cem>smartphone\u003C/em> yang mencantumkan istilah \u003Cem>dual-core\u003C/em>, \u003Cem>quad-core\u003C/em>, atau \u003Cem>octa-core\u003C/em>. Di dalam masing-masing \u003Cem>core\u003C/em> itu, biasanya masih dibagi lagi menjadi beberapa alur kerja yang kita sebut dengan \u003Cem>thread\u003C/em>.\u003C/p>\n\u003Cp>Nah, tiap \u003Cem>thread\u003C/em> di dalam CPU ini bisa kita bayangkan sebagai satu pekerja terpisah.\u003C/p>\n\u003Cp>Kalau kita menulis kode biasa (\u003Cem>single-threaded\u003C/em>), kita cuma menyuruh satu pekerja untuk membereskan semua tugas. Tapi dengan \u003Cem>multi-thread\u003C/em>, kita bisa mengerahkan beberapa pekerja sekaligus untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan secara serentak.\u003C/p>\n\u003Cp>Mari kita bawa kembali contoh kasus memasak mi instan dan telur goreng tadi.\u003C/p>\n\u003Cp>Jika di metode asinkron kalian memasak semuanya sendirian dengan berpindah-pindah tugas, maka di metode \u003Cem>multi-thread\u003C/em> kalian bakal mengajak satu teman lagi buat berbagi tugas di dapur. Kalian fokus merebus mi, sedangkan teman kalian fokus menggoreng telur. Dengan cara ini, kedua pekerjaan benar-benar jalan bersamaan di bawah kendali dua orang yang berbeda.\u003C/p>\n\u003Cp>Namun perlu diingat, menggunakan banyak pekerja di pemrograman \u003Cem>multi-thread\u003C/em> \u003Cem>nggak\u003C/em> selalu menjamin semuanya bakal jadi lebih efisien. Kadang-masing, terlalu banyak pekerja malah bikin suasana jadi kacau dan boros sumber daya, sehingga pendekatan \u003Cem>single-thread\u003C/em> malah lebih cocok.\u003C/p>\n\u003Cp>Efisiensi maksimal dari \u003Cem>multi-thread\u003C/em> baru akan terasa kalau tugas yang dibagi itu sifatnya independen dan \u003Cem>nggak\u003C/em> saling ketergantungan satu sama lain.\u003C/p>\n\u003Cp>Misalkan kita bikin analogi ekstrem: kalian memanggil 3 orang teman buat membantu memasak sebungkus mi instan. Sekarang ada 4 orang di dapur yang dibagi menjadi dua tim: Tim Mi dan Tim Telur.\u003C/p>\n\u003Cp>Lalu tiap tim membagi tugasnya secara super detail:\u003C/p>\n\u003Cul>\n\u003Cli>Orang pertama Tim Mi tugasnya cuma merebus air dan meniriskan mi.\u003C/li>\n\u003Cli>Orang kedua Tim Mi tugasnya menuangkan bumbu dan mengaduk mi.\u003C/li>\n\u003Cli>Orang pertama Tim Telur bertugas memanaskan wajan dan memecahkan telur.\u003C/li>\n\u003Cli>Orang kedua Tim Telur bertugas menggoreng telur dan meniriskan minyak.\u003C/li>\n\u003C/ul>\n\u003Cp>Kebayang kan betapa ribetnya dapur kalian nanti? Setiap orang bakal banyak menganggur karena harus saling menunggu giliran tugas kecilnya selesai. Memasak sebungkus mi goreng yang harusnya simpel malah jadi kacau dan \u003Cem>nggak\u003C/em> efisien sama sekali karena terlalu banyak koordinasi di antara para pekerja. 😭\u003C/p>\n\u003Cp>Makanya, untuk kasus-kasus sederhana, satu pekerja saja sebenarnya sudah lebih dari cukup.\u003C/p>\n\u003Ch2 id=\"kesimpulan\">Kesimpulan\u003C/h2>\n\u003Cp>Kalau kita rangkum, perbedaan mendasar dari kedua metode ini terletak pada jumlah pekerja (\u003Cem>thread\u003C/em>) yang dikerahkan dan bagaimana cara mereka mengeksekusi tugas-tugas tersebut.\u003C/p>\n\u003Cp>Pemrograman asinkron fokus pada bagaimana satu pekerja dapat berpindah tugas dengan cerdas tanpa terhambat oleh proses yang lambat. Sementara itu, pemrograman \u003Cem>multi-thread\u003C/em> berfokus pada pembagian tugas ke beberapa pekerja sekaligus agar bisa dikerjakan secara paralel di saat yang bersamaan.\u003C/p>\n\u003Cp>Biar gampang diingat, berikut tabel ringkasan perbandingannya:\u003C/p>\n\u003Ctable>\n\u003Cthead>\n\u003Ctr>\n\u003Cth align=\"left\">Metode\u003C/th>\n\u003Cth align=\"left\">Jumlah Pekerja\u003C/th>\n\u003Cth align=\"left\">Cara Kerja\u003C/th>\n\u003C/tr>\n\u003C/thead>\n\u003Ctbody>\u003Ctr>\n\u003Ctd align=\"left\">\u003Cem>Asynchronous\u003C/em>\u003C/td>\n\u003Ctd align=\"left\">Cukup Satu Pekerja\u003C/td>\n\u003Ctd align=\"left\">Mengerjakan tugas lain selagi menunggu tugas yang lambat\u003C/td>\n\u003C/tr>\n\u003Ctr>\n\u003Ctd align=\"left\">\u003Cem>Multi-thread\u003C/em>\u003C/td>\n\u003Ctd align=\"left\">Banyak Pekerja (Lebih dari 1)\u003C/td>\n\u003Ctd align=\"left\">Membagi-bagi tugas untuk dikerjakan secara bersamaan\u003C/td>\n\u003C/tr>\n\u003C/tbody>\u003C/table>\n\u003Cp>Semoga sekarang kalian \u003Cem>nggak\u003C/em> bingung lagi ya membedakan kedua konsep \u003Cem>concurrency\u003C/em> ini!\u003C/p>\n\u003Cp>Selamat belajar dan selamat merancang kode yang efisien! 👋\u003C/p>\n\u003Ch2 id=\"referensi\">Referensi\u003C/h2>\n\u003Cul>\n\u003Cli>\u003Ca href=\"https://developer.mozilla.org/en-US/docs/Learn/JavaScript/Asynchronous/Introducing\">Introducing asynchronous JavaScript - MDN Web Docs\u003C/a>\u003C/li>\n\u003Cli>\u003Ca href=\"https://web.mit.edu/6.031/www/fa17/classes/19-concurrency/\">Reading 19: Concurrency - MIT, Software Construction\u003C/a>\u003C/li>\n\u003C/ul>\n","\u003Cul>\n\u003Cli>Concurrency adalah konsep dasar yang memungkinkan komputer menangani beberapa tugas sekaligus agar lebih efisien.\u003C/li>\n\u003Cli>Pemrograman asynchronous (asinkron) fokus pada penyelesaian tugas lain selagi menunggu proses tertentu selesai (non-blocking) menggunakan satu pekerja.\u003C/li>\n\u003Cli>Pemrograman multithreading membagi tugas-tugas ke beberapa pekerja (thread) yang berjalan secara paralel di CPU.\u003C/li>\n\u003Cli>Memakai banyak thread tidak selalu lebih efisien; jumlah pekerja harus disesuaikan dengan beban komputasi agar tidak mubazir.\u003C/li>\n\u003C/ul>\n",[411,414,417,425],{"id":315,"title":316,"slug":317,"excerpt":318,"thumbnail_image":412,"tags":413},{"id":320},[322,323,324,325,326],{"id":78,"title":79,"slug":80,"excerpt":81,"thumbnail_image":415,"tags":416},{"id":83},[69,76,85,86,87,88,89],{"id":418,"title":419,"slug":420,"excerpt":421,"thumbnail_image":422,"tags":424},"44","Transactional Outbox Pattern: Solusi Konsistensi Database dan Message Broker Tanpa 2PC","transactional-outbox-pattern-konsistensi-database-message-broker","Pernah nggak kalian lihat pesanan udah masuk database, tapi email konfirmasinya nggak pernah kekirim? Itu gejala *dual-write problem*. Yuk, kita bedah Transactional Outbox Pattern biar data dan *event* kalian nggak lagi berselisih paham!",{"id":423},"e3c617fd-1486-4b82-b937-94fbec846c77",[69,115,88,126,114,76,127],{"id":426,"title":427,"slug":428,"excerpt":429,"thumbnail_image":430,"tags":432},"43","Dead Letter Queue (DLQ) & Retry Policy: Menyelamatkan Pesan Nyasar di RabbitMQ Tanpa Bikin Worker Macet","dead-letter-queue-retry-policy-rabbitmq-resilient-messaging","Pernah nggak sih, *worker* kalian nolak satu pesan terus-terusan sampai CPU melonjak 100%? Itu namanya *poison message loop*, jebakan klasik di RabbitMQ. Yuk, kita bahas cara pasang *retry policy* dan *dead letter queue* yang bener!",{"id":431},"6c0a7ead-4841-4073-b29e-df7ae0f2aa3c",[113,114,69,88,115,116,274],[434,438,441,444,447],{"text":435,"depth":436,"id":437},"Sekilas Tentang Concurrency",2,"sekilas-tentang-concurrency",{"text":439,"depth":436,"id":440},"Mengenal Asynchronous Programming","mengenal-asynchronous-programming",{"text":442,"depth":436,"id":443},"Memahami Multi-thread Programming","memahami-multi-thread-programming",{"text":445,"depth":436,"id":446},"Kesimpulan","kesimpulan",{"text":448,"depth":436,"id":449},"Referensi","referensi",1791045070910]